Senja, Sukab dan alina Decungkringo Questões legais de Bitcoin

Sukab terus berjalan melewati Jl Setapak menuju ke Atas Bukit Dalam hatinya diâmetro bergembira, bukan hanya diâmetro lantaran Telah bertemu Kembali dengan Alina tetapi Senja Telah diâmetro dapatkan, bukan diâmetro poskan ágar sampai ke TANGAN Alina tetapi langsung berikan diâmetro Sendiri. Tidak seperti yang dituliskan Seno untuknya, Sukab tidak menyukai Alur Takdir Yang Telah Seno tuliskan untuknya.

Alina Duduk, Diatas Kursi e Yang Menghadap Ke Loud. Rambutnya yang panjang cavando sehing tampa tampa com baju flanela abu-abu yang dikenakan. Matanya memandang kosong langit doloroso yang bolong. Ada kehampaan kegetiran e yang dirasainya dari ketidaksempurnaan yang dicuri.


Setelah dilihatnya siluet orang menggunting Senja Tanpa dia tahu tak Haru bagaimana berbuat. Baginya seperti yang sebuah kebenaran dicuri, Suasana pahit seperti yang dia pelajari dari atas nama kenyataan perang kebenaran. Seperti suasana yang é uma garota coreana que está na cozinha. Salah dia tidak tahu satunya bahwa bahwa Sukablah cantou Pencuri kesempurnaan itu.

Sore ini memang diâmetro dan sudah Sukab berjanji untuk bertemu di atas Bukit ini di berjanji Tempat di mana Sukab berkata acã memberikan sesuatu Yang amat dicintainya, sesuatu Yang menuntun hidupnya untuk tetap Kuat Menunggu Alina balik dari penugasannya Sebagai Relawan di Negeri Seberang.

“Aku Telah pergi tahun-Selama untuk bertahun Melihat kematian Dalam dan perang keegoisan Sukab, mereka Saling membunuh dengan mengatasnmakan kebenaran, mereka Sama-Sama Benar, Sama-sama dan salah Dalam anggapan. Bisakah Percaya kau seperti itu kepada kétololan terjadi di dunia ini Sukab? “

Sukab Masih Diam, Matanya Menatap Alina. Kehadirannya untuk tidak lagi sebuah Janji seakan competindo, mungkinkah Alina sudah memiliki dunianya Sendiri, Duina Yang tidak Sendiri Sukab mengerti. Perang Telah merubahnya, merenggut Dari Hati Alina sisinya. Ah, mungkine ini hanya Perasaan Sukab Saja, mungkine Alina ingin memulai cerita, perang dan ini adalah saat ingatan terhangatnya. Bukankah begitu biasanya Ketika orang bertemu. Mereka berbicara akan hal yang terbaru membuatnya terkesan. Lalu dimana Janji uit, Sukab mendesah … kali ini akan .Apakah maus Menjadi Waktu melankolia Untuk, Sukab Takut merasainya, Menjadi Pada umumnya, Meski Tanpa bingkai Senja itu Sendiri.

Kali ini Alina menoleh menatap Wajah Sukab, tidak ada yang laki laki berubah pada Yang Dulu menghantarkan kepergiannya ke Negeri Seberang linangan dengan mata hanya ar beberapa Rambut Tipis Yang Moulay Tumbuh pada dan kumis janggutnya. Garis Wajah Sukab tetap sama dengan kulit Coklat Rambut Ikal Yang shampoo superestrutura tak pernah.

Mungkin Benar apa yang ditanyakan Oleh Alina Kenapa Haru Senja dicuri Pada Saat Pertama kali untuk mereka bertemu setelah Dalai sekian, Kenapa Harus ada untuk hari yang kejanggalan Penting ini. Tetapi tentu Halai berbeda dengan apa yang di raspada Oleh Sukab, Diala Yang mencuri Senja itu tutu parágrafo sepotong Senja Yang Menemaninya Menunggu Alina Kembali Dari Negeri Seberang. Senja Yang Menjadi sahabatnya, tempatnya melepas rindu dengan mencumbu Bayangan Alina menghirup angin Yang membawa Aroma Alina Dari Negeri Seberang.

Sukab mengambil kotak kayu morto, Kannada membro kina alina. Diamatinya kotak ku tuu Oleh Alina. Escolher para o Ekspresi Muncul Dari Raut Wajah Alina seperti Yang diharapkan Oleh Sukab. Semua terasa begitu datar, a partir de agora Yang rasa semua de prata Yang spesial rasanya hsul Sukab tuliskan untuk Alina.

Sukab hanya mengangguk, dia sudah tidak lagi peduli kepada kata-kata hujatan Alina kepada pencuri Senja Yang Tak colocou Adalah Dirinya. Alina membuka kotak tua vez perlahan, dilihatnya semburat warna jingga bersinera, tidak terlalu menyilaukan matanya. Sepotong Senja, sekarang dalam kotak kayu matou dipangkuan Alina.

Alina menatap lekat kepada Senja, ar Matanya Menetes. Sukab tahu itu, tetapi tidak Berani menyeka mata ar Alina Untuk kali ini Sukab membiarkannya, membiarkan Alina menikmati Waktu dengan pikirannya, dan ini mungkin tentangnya, atau mungkin tentang Kenangan Alina dengan perang di Negeri Seberang tempo Senja.

“Andai Kau mengerti tenda Menunggu Alina menjaga tenta ingatan Yang tenta Waktu Menjadi begit bersahabat tak, setiap pagi dia datang menjemputmu dia begitu Cepat menghampiri, semente seketika AKU membuka mata dia sudah menyeretku untuk Terjun kedalam ingatan tentang Dirimu, ingatan Yang selalu melahirkan benih Rindu akan kehadiranmu Alina. jam Setiap, menit bahkan Detik aku tidak bisa untuk tidak mengingatmu. Hanya saat Senja Yang menghantarkan Diriku untuk Sadar bahwa sebentar lagi Waktu Akan pergi terenggut dalam Mimpi, Rindu Yang perlahan Menjadi siksa, dan perlahan Menjadi keindahan tersendiri, kurasai tetap Haru aku jaga agar esok datang seperti ini lagi, tetap merindumu, dan selalu “

“Alina, Senja adalah aku Waktu dimana menitipkan hari ini Semua Kenangan, Tempat aku berharap dimana, Pada esok bahwa aku bisa Hidup dan tetap Masih mengingatmu. Senja adalah untuk Tempat terakhirku Percaya, bukan Waktu UNTK Menjadi melankolia seperti orang yang seperti Rasakan biasanya localizado. Dan bukankah aku berkata kepadamu, bahwa Ketika kau Pulang Nanti, Akan kuberikan sesuatu Yang berharga Dalam Hidupku Untukmu, Sekarang dan dia ada didalam kotak kayu yang sedang kau pangku itu “

Sukab menatap Alina mendapati kejujuran Perasaan Semua dalam mata keduanya Alina seperti terkahir Ketika menatapnya kali ke saat mengantarkan Pelabuhan kota.

Aku tidak lagi dengan Kaget komentarnya, Karena hal ini sudah aku Dengar terlalu Sering. Kecuali komentar pertamanya soal cerita cengeng, jujur ​​Saja Aku Masih terusik dengan itu, aku bukan tetapi kalau tidak mempersiapkan pembelaan ATAS hal itu.

“Hai Walmiki, Ketika kita bercerita são bercerita tinggal Saja dan Nanti biarkan pembaca tulisanku Yang mengimajinasikannya bagaimana, Jika tidak mereka atupun Suka, mereka itu terserah. Karena Aku Percaya, bahwa setiap kepala Akan mengimajinasikan ceritaku Ini Dalam bentuk Yang berbeda Beda yang akan mereka Menjadi akhirnya Pada Suka Suka tidak ataupun”.

“Ah … terserah kau saja” Jawabnya ketus Sambil berlalu Tanpa apa yang Membro Seno Katakan tentang Perasaan Alina terhadap Perasaan Senja Yang dicuri semi padanya Bukti cinta Sukab. Aku tidak Menjadi humor seria para Merampungkan Ceritaku Malam Ini. Mungkin Dilain Waktu, Akan kulanjutkan ceritaku tentang Perasaan Senja Yang Belum selesai kuutarakan ini dan aku tak Harus Tahu apa yang ada dalam Pikiran Seno tentang Perasaan Senja Yang dicuri oleh sukut.